Bersahabat dengan Alam

Menyadari pentingnya air bagi kehidupan dan keberlangsungan operasional kampus, kami telah membuat beberapa program konservasi air dan terus akan merealisasikan sesuai dengan skala prioritas dan kemampuan dukungan finansial. Pandemi COVID-19 ini telah berhasil menurunkan kebutuhan air tanah, namun ini bukan suatu prestasi. Kita perlu mempertimbangkan cara memanfaatkan anugrah air hujan yang melimpah ruah ini. Tabel 1 menunjukkan potensi volume air hujan yang turun di kawasan kampus Universitas Telkom. Dari tabel tersebut tampak volume air hujan sekitar 2 milyar liter per tahun. Jika dikelola akan menjadi berkah, jika tidak, akan menambah masalah bencana banjir.

Universitas Telkom telah membuat danau buatan semenjak 2007 yang diberi nama Situ Tekno. Intake air danau ini berasal dari kanal air eksternal, yaitu irigasi sawah, air hujan, dan air buangan dari gedung-gedung sekitar danau. Setelah gedung GKU Tokong Nanas selesai dibangun, dibuatlah 2 kolam ikan di depan gedung tersebut. Di antara kolam ikan itu mengapit jalan setapak menuju kawasan danau Situ Tekno. Tujuan utama dibuatnya danau dan kolam ini adalah untuk retensi air yang akan membawa banyak manfaat positif ke depannya. Adapun data luas area retensi air beserta perkiraan volume air terdapat di tabel 2. Dari tabel tersebut tampak menempati luas hanya 1,16% dari luas area kampus, namun dapat menyimpan kurang lebih sebanyak 12.400 m3 air.

Dalam rangka memudahkan perawatan kolam retensi air, ada beberapa treatment yang dilakukan yaitu:

  1. Filtrasi air kanal eksternal, sebelum memasuki kawasan kampus. Kanal air eksternal yang melewati perkampungan dan persawahan, ternyata membawa banyak muatan sampah. Sampah yang telah tersaring ini secara berkala dibersihkan dan dibuang ke tempat pengumpulan sampah. Air kanal ini menjadi intake bagi 2 kolam di depan Gedung Tokong Nanas.
  2. Filtrasi sedimen. Air kanal eksternal selanjutnya sebagian masuk ke fasilitas instalasi retensi sedimen, air luarannya menuju danau Situ Tekno. 
  3. Filtrasi air buangan gedung. Air buangan dari gedung-gedung sekitar danau, disaring dari sampah dan sedimen terlebih dahulu sebelum disalurkan ke danau.

Dengan filtrasi secara bertahap ini diharapkan dapat menjaga kualitas air danau, termasuk mengurangi resiko sedimen yang terbawa.

Rain Water Harvesting

Program konservasi air terbaru adalah Rainwater Harvesting (RWH), dengan pilot project memanfaatkan air hujan terjebak yang berada di sekitar Gedung Alor atau Business Center. Luas area tangkapan air hujan adalah 2228,25 m2. Berdasarkan data BMKG pada tabel 1, kapasitas ground tank yang disiapkan menyesuaikan kondisi di lapangan berukuran (5 x 2 x1,5) m sehingga volumenya 15 m3. Air hujan yang masuk, melalui filtrasi kasar ijuk, batu karang dan zeolite untuk meningkatkan kadar pH. Kemudian air yang sudah terfilter, masuk ke bak tampung utama. Jika terjadi overflow, maka air akan masuk ke sumur resapan. Jika sumur resapan penuh, maka air akan keluar dari outlet sumur resapan, dan kembali berproses seperti awal. Air hujan yang dipanen kemudian dipompa (submersible pump) ke toren air setinggi 6 m berkapasitas 1 m3 akan disalurkan untuk area kantin teknik, area Green House, dan penyiraman taman sekitar gedung Alor. Untuk tujuan monitoring RWH, akan dipasang sensor pH dan level permukaan air berbasiskan IoT.

Leave a Reply

Your email address will not be published.