Bersahabat dengan Sampah

Universitas Telkom melalui kebijakan yang diterbitkan oleh Rektor yaitu Sistem Manajemen Pengelolaann Sampah Terpadu atau yang di sebut I-Want atau Integrated Waste Managemen. Sistem Manajemen Pengelolaan Sampah Terpadu “Integrated Waste Management” (I-Want) ini bertujuan untuk mensinergikan dan mengintegrasikan semua fungsi dan komunitas/ organisasi yang ada di lingkungan Universitas Telkom menjadi satu platform dalam menyelesaikan permasalahan terkait sampah dan dapat memberikan nilai tambah pada pengolahan sampah sehingga mampu di-monetize untuk keberlanjutan sistem.

Strategic Plan (Roadmap) Tahun 2020 – 20023 Sistem Manajemen Pengelolaan Sampah Terpadu (Integrated Waste Management” (I-Want) System)

Diagram Alir Manajemen Pengelolaan Sampah Terpadu (Flow Process of Integrated Waste Management” (I-Want) System)

Kerangka Kerja Sistem Manajemen Pengelolaan Sampah Terpadu (Framework of  Integrated Waste Management (I-Want) System)

  1. Pengolahan Sampah di kampus Universitas Telkom

Secara umum tempat sampah di Universitas Telkom dilakukan sebagai berikut:

Tempat sampah dibagi menjadi 4 (empat) bagian, diantaranya; sampah organik, sampah anorganik, sampah kertas, dan sampah botol plastik/ kaleng dengan penyediaan tempat sampah khusus. Pembagian tempat sampah ini telah disosialisasikan di seluruh kawasan kampus sebagai bentuk edukasi untuk seluruh civitas academica melalui stiker dan baliho yang dipasang di berbagai tempat.

C:\Users\raffi\Downloads\WhatsApp Image 2020-10-26 at 18.50.12.jpeg

Daur ulang: pengomposan dan pembakaran. 

Sampah yang dapat didaur ulang adalah:

  1. Sampah organik yang berasal dari sampah dedaunan yang akan dijadikan kompos, melalui beberapa proses, yaitu:
  1. Sampah dedaunan dicacah menggunakan mesin dan hasilnya disimpan pada bata terawang.
  2. Sampah dedaunan dikumpulkan pada bata terawang, kemudian dibiarkan membusuk selama kurang lebih 1 (satu) bulan. 
  3. Sampah dedaunan yang sudah membusuk dicampur dengan gabah/sekam dan pupuk kandang (kotoran kambing) lalu dilakukan pengadukan.
  4. Hasil adukan/campuran ketiga komponen siap dibungkus dan digunakan sebagai kompos.
RUANG PRODUKSI PUPUK KOMPOS
Pencacahan Daun




Bata Terawang




Penyimpanan Daun yang sudah membusuk
Distribusi Kompos
Pengepakan Kompos
Pencampuran dg bahan lainnya untuk Kompos

Gambar 7. Proses pembuatan kompos dan hasil kompos (gambar di rapihkan)

Video lengkap untuk pengolahan Sampah Dedaunan menjadi kompos terdapat di link berikut ini : https://drive.google.com/file/d/1HgOaVafv-JNczCMAPUNiJx1wNiZz1kl0/view?usp=sharing

Sampah yang berasal dari dedaunan juga dibuat menjadi Batako. Prosesnya dengan cara dibakar hingga menjadi abu, hasil pembakaran dicampurkan ke media pasir dan semen. Media yang telah dicampurkan kemudian dicetak pada pencetak batako. Batako yang telah jadi dimanfaatkan dan digunakan untuk keperluan pembangunan di lingkungan Universitas Telkom.

Proses pembuatan ecobrick dari sampah dedaunan

Sementara sampah kertas dijadikan sebagai bahan kerajinan tangan. Prosesnya, sampah kertas dipotong lalu dipanaskan hingga mencapai titik didih dan dicampurkan dengan larutan alkali dan didiamkan selama 4-6 jam. Untuk efisiensi, kertas bekas dimasukkan ke dalam box filter, kemudian disiram hingga serat-serat kertas abrasif (tidak licin). Pulp bersih ini kemudian digiling menggunakan mesin pengurai serat, selama 10-20 menit, sehingga terbentuk serat (fibrilasi). Bila perlu dapat dilakukan dua kali. Bahan yang telah digiling disaring untuk menentukan ukuran pulp. Alat yang digunakan adalah bak penampung, meja transfer lembaran kertas, dan alat sablon untuk ukuran A4, A3, A2 atau A1. Pada proses ini bubur kertas dicampur air dengan perbandingan 1:20 diaduk sampai merata. Bahan dicetak dalam cetakan sesuai ukuran desain. Ketebalan lembaran disesuaikan dengan penambahan serat (fiber pulp). Alat yang digunakan adalah alas pengering yang dilapisi kain penyerap, dan cetakan kain kasa. Kertas siap dipakai setelah dijemur di bawah sinar matahari atau pada suhu ruangan tertentu.

Proses Pembuatan Daur Ulang Kertas

Selain diolah menjadi kompos, sampah daun yang biasa dikonsumsi untuk pakan ternak seperti ayam, bebek, kelinci, kambing diolah terlebih dahulu dengan mesin hammer mill (pembuat pelet), adapun proses untuk pembuatan pelet dari sampah daun adalah :

  • Sampah Daun yang akan dijadikan pelet dilakukan penggilingan terlebih dahulu supaya lebih halus.
  • Sampah daun yang sudah halus dicampur dengan garam, dedak (gabah halus), bekatul dan gula diaduk dalam mixer
  • Kemudian bahan campuran tersebut ditumbuk dengan menggunakan mesin hammer mill dan langsung dimasukkan ke dalam wadah atau karung sebagai bahan baku untuk mesin briket pembuat pelet
  • Bahan baku hasil tumbukan tersebut dicetak menjadi pelet dengan menggunakan mesin bricket pelet, yang menghasilkan butiran-butiran berupa pelet siap digunakan untuk pakan ternak.

Universitas Telkom pada tahun 2021 ini,  melakukan pengadaan mesin penumbuk daun (hammer mill) dan mesin mixer pencampur bahan baku untuk pelet, sedangkan untuk mesin briket pembuat pelet sedang dalam penyempurnaan, diharapkan di akhir tahun 2021 ini atau di awal tahun 2022 sudah siap digunakan untuk melakukan produksi pelet untuk pakan ternak.

Mesin Pembuat Bahan untuk Pelet
  1. Sampah organik yang berasal dari sisa makanan. Sampah ini dihimpun dari sumber sampah organik: kantin, asrama, dan bagian pantry dari setiap gedung. Perlakuan daur ulang sampah ini agak berbeda dengan sampah organik vegetasi, yaitu dijadikan sebagai pakan ternak pada kolam yang berada di area Universitas Telkom. Di tempat ini terdapat 2 kolam ikan nila yang menjadi pemroses sampah secara alami.
C:\Users\User\Downloads\Kolam Ikan.jpg


Sampah campuran organik dan non-organik diproses menggunakan mesin incinerator. Mesin ini beroperasi setiap hari dan dioperasikan oleh dua orang operator. Mesin bantuan dari BUMN ini bekerja menggunakan bahan bakar campuran solar dan air. Luaran dari sampah yang diproses ini merupakan karbon, yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman. Penggunaan mesin ini merupakan langkah terakhir setelah berbagai perlakuan telah dilaksanakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.